Pemda Berharap Cargill Mampu Bersinergi Bersama Petani Kakao Didaerah

13

Dinas tanaman pangan, holtikuktura, perkebunan dan ketahanan pangan menggelar acara PRESENTASI PERKENALAN PROGRAM CARGILL COCOA PROMISE di ruang rapat gabungan dinas lt 3 jalan Salotungo Watansoppeng, Kamis 14 Nopember 2019.

Ketua Panitia Nawir dalam laporannya mengatakan berkat keuletan pemerintah kerjasama dengan Cargill dalam membina petani cacao maka salah satu petani soppeng Muhammad Aris petani kakao asal Kelurahan Tettikenrarae Kecamatan Marioriwawo mendapat penghargaan yang diterimanya pada International Cocoa Awards (ICA) 2019, di Paris Prancis sebagai 50 sampel kakao terbaik dan Kami berkomitmen terus melakukan pembinaan pada petani kakao di soppeng secara berkelanjutan

Asisten Administrasi Umum Drs. A. Fithratuddin, M. Si yang membacakan sambutan Bupati menyampaikan Kakao bukan tanaman yang asing bagi masyarakat Soppeng, tanaman ini menjadi tumpuan hidup masyarakat puluhan tahun lamanya, Maka tak heran bila tanaman ini sangat mudah dijumpai di kebun-kebun dan di pekarangan rumah masyarakat. Ketika Negara Indonesia dilanda krisis moneter, dimana sebahagian besar masyarakat Indonesia terpuruk ekonominya, justru petani kakao kita menikmati hasil penjulan kakao yang sangat tinggi. Setelah bertahun tahun lamanya kakao menopang ekonomi keluarga, kondisi kakao semakin rentah dan produktifitasnya terus menurun Sampai tahun 2016 masih tercatat seluas 18.883,72 hektar tanaman kakao namun sampai akhir tahun 2018 telah jauh menurun hingga 15.938,29 Ha dan angka ini terus menurun seiring makin maraknya alih fungsi komoditi.

Laju penurunan tanaman kakao banyak dipicu oleh umur tanaman yang telah tua dan serangan penyakit yang merusak batang dan buah serta berkurangnya luas tanaman kakao akibat persaingan komoditas khususnya tanaman Jagung. Kondisi ini bukan hanya terjadi di Kabupaten Soppeng namun sudah menjadi masalah nasional dalam pengembangan kakao. Produksi biji kakao Soppeng turun hingga 3.372 ton di tahun 2019 dibandingkan produksi pada tahun 2016 sebesar 12.360 ton, Dalam skala nasional juga terjadi penurunan produksi sekitar 10% dan turun sebesar 12% dalam skala provinsi Sulawesi Selatan bahkan dengan berbagai sebab, eksport biji kakao kita menurun sebesar 61% dibandingkan tahun lalu. Telah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk mempertahankan eksistensi Indonesia sebagai produsen kakao terbesar ketiga di dunia, Dulu kita mengenal program Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao Nasional (Gernas Kakao) yang dimulai pada tahun 2009 sampai 2016 dengan barbagai kegiatan antara lain, peremajaan kakao, intensifikasi kakao dan rehabilitasi tanaman kakao, namun belum mampu memberikan peningkatan produksi kakao yang signifikan bagi petani Indonesia, Setelah program ini selesai pemerintah Provinsi dan Daerah tetap melanjutkan program-program bantuan kepada petani untuk menyelamatkan tanaman kakao yang tersisa.

Prospek pengembangan kakao masih sangat terbuka lebar bagi petani kita, karena permintaan pasar akan biji kakao masih sangat tinggi dan terus meningkat dari tahun ke tahun, Negara Eropa sebagai konsumen cokelat terbesar dunia, sangat bergantung pada produsen kakao dunia seperti Pantai Gading, Ghana dan Indonesia. Produk kakao Indonesia cukup digemari produsen cokelat karena tidak mudah meleleh sehingga cocok untuk di Blending. Dengan kisaran harga antara Rp.30.000,- sampai Rp.36.000,- per kilogram, kakao merupakan komoditas yang sangat menguntungkan untuk diusahakan. Indonesia kini bukan hanya pengeksport biji kakao, namun telah menjelma menjadi importir kakao untuk memenuhi kebutuhan industri yang mencapai 800.000 ton sedangkan produksi kita hanya 400.000 ton di mana 60% produksinya berasal dari Sulawesi dan 90% kebun kakao di Indonesia adalah milik petani yang lemah secara finansial dan teknologi.

Tanggung jawab memberdayakan petani kakao tentu bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, tetapi perlu sinergitas dengan semua elemen termasuk dunia usaha, lembaga keuangan, LSM dan petani itu sendiri. Pemerintah harus menyiapkan regulasi yang pro rakyat seperti penyediaan pupuk bersubsidi yang tepat jumlah dan waktunya, memberikan bimbingan dan penyuluhan terkait praktek budidaya kakao yang baik, penguatan kelembagaan petani, bantuan bibit berkualitas dan lain sebagainya, Sementara pihak swasta diharapkan dapat menjamin standar harga yang menguntungkan petani dan memberikan pendampingan peningkatan kualitas kakao sesuai standar internasional. Untuk itu harapan Kami kepada cargill untuk dapat memperluas kemitraanya dengan petani demi menjamin kualitas dan harga kakao rakyat dan terus berinovasi untuk kelestarian kakao. Kedepannya kami harap Cargill dapat menggandeng mitra lokal dalam melaksanakan program-programnya sehingga bukan hanya petani kakao yang merasakan dampaknya namun meluas ke seluruh kelompok masyarakat dan tetap bersinergi dengan pemerintah setempat utamanya Kepala Desa dan penyuluh pertanian. Pada kesempatan ini pula saya ingin mengucapkan selamat kepada Bapak Muhammad Aris petani kakao asal Kelurahan Tettikenrarae Kecamatan Marioriwawo atas penghargaan yang diterimanya pada International Cocoa Awards (ICA) 2019, di Paris Prancis sebagai 50 sampel kakao terbaik. Semoga menjadi inspirasi bagi petani kakao Soppeng untuk merawat tanaman kakaonya.

Turut hadir pada kegiatan ini Kepala SKPD lingkup Pemerintah Kabupaten Soppeng, Manager Komersial Cargill dan Para Pengurus Kelompok Tani dan Pedagang.